Rencana, jurnal, dan backtest
Sebelum membuka posisi, periksa daftar berikut. Pertama, apakah aturan masuk dan keluar sudah tertulis. Kedua, berapa ukuran posisi dan berapa rupiah risiko per transaksi. Ketiga, apakah biaya, spread, dan komisi sudah dihitung. Keempat, apakah jurnal sudah siap diisi. Kelima, apakah hasil backtest berasal dari aturan yang sama. Keenam, apakah dana berasal dari uang yang siap hilang. Ketujuh, apakah broker terdaftar di Bappebti dan metode setor memakai transfer bank atau e-wallet.
Isi rencana sebelum masuk pasar
Rencana tertulis adalah daftar aturan yang Anda buat sebelum melihat grafik. Isinya bukan prediksi arah XAU/USD, melainkan syarat masuk dan keluar. Tulis di kertas atau berkas: harga acuan, jarak henti rugi, dan target. Tanpa rencana, keputusan diambil saat harga bergerak, dan itu sulit diperiksa ulang.
Rencana juga memuat ukuran posisi. Tentukan berapa rupiah yang siap hilang untuk satu transaksi. Misalnya, Anda menetapkan risiko Rp150.000 per transaksi. Dengan XAU/USD di sekitar 2.410,00, jarak henti rugi 2,00 poin, dan nilai per poin Rp75.000 per lot, ukuran posisi yang membuat risiko Rp150.000 adalah 150.000 dibagi (2,00 dikali 75.000) sama dengan 1 lot. Angka ini harus dihitung sebelum masuk, bukan setelah posisi terbuka.
Rencana yang baik menyebut biaya. Broker dapat membebankan komisi, spread, atau biaya inap. Karena setiap broker berbeda, tanyakan rinciannya dan tulis asumsi Anda. Jika biaya per transaksi Rp25.000 dan Anda berencana 20 transaksi, siapkan Rp500.000 hanya untuk biaya. Rencana tanpa biaya membuat hasil terlihat lebih baik daripada kenyataan.
Cara mengisi jurnal setelah posisi ditutup
Jurnal adalah catatan apa yang benar-benar terjadi. Isi tepat setelah posisi ditutup, bukan keesokan hari. Catat tanggal, arah, harga masuk, harga keluar, ukuran posisi, dan alasan keluar. Alasan keluar penting: apakah karena aturan, atau karena panik. Kolom terakhir itu yang sering hilang.
Sertakan biaya di setiap baris jurnal. Jika Anda menutup 60 transaksi dengan biaya Rp25.000 per transaksi, total biaya Rp1.500.000. Tanpa kolom biaya, Anda hanya melihat untung rugi kotor. Jurnal yang rapi memisahkan hasil kotor dan hasil bersih, sehingga Anda tahu berapa rupiah yang benar-benar tersisa.
Jangan mengisi jurnal hanya saat untung. Catat juga kerugian kecil dan transaksi yang membosankan. Setelah 50 catatan terkumpul, baru hitung ringkasan. Dari 40 transaksi untung rata-rata Rp120.000 dan 20 transaksi rugi rata-rata Rp90.000, hasil bersih sebelum biaya Rp3.000.000. Setelah biaya Rp1.500.000, hasil bersih Rp1.500.000. Angka ini yang dibandingkan dengan rencana awal.
Backtest aturan yang sudah ditulis
Backtest berarti menguji aturan pada data harga lama. Aturannya harus sama dengan yang ada di rencana. Jika rencana mengatakan masuk saat harga menembus 2.410,00, backtest memakai aturan itu, bukan aturan yang Anda ubah di tengah jalan. Tujuannya mengukur hasil bersih, bukan mencari aturan yang selalu benar.
Gunakan data yang cukup panjang dan catat setiap transaksi seperti di jurnal. Hitung biaya yang berlaku saat itu, atau asumsikan biaya yang sama. Broker dapat membulatkan harga, menambah komisi, atau memberi spread berbeda. Karena itu, hasil backtest di satu broker belum tentu sama di broker lain. Tulis asumsi biaya di catatan backtest.
Backtest tidak menjamin hasil di masa depan. Angka dari masa lalu hanya menunjukkan bagaimana aturan berperilaku pada data itu. Jika hasil bersih negatif setelah biaya, aturan itu belum layak dipakai. Jika positif, tetap uji dengan ukuran posisi kecil terlebih dahulu. Uang yang dipakai harus uang yang siap hilang.
Pemeriksaan berkala terhadap tiga catatan
Tiga catatan itu berguna hanya jika diperiksa ulang pada waktu yang tetap. Tetapkan satu hari dalam sebulan untuk membaca kembali rencana, jurnal, dan hasil backtest berdampingan. Tanpa jadwal tetap, catatan menumpuk tanpa pernah dipakai. Pemeriksaan bulanan cukup memakan waktu satu jam. Pilih tanggal yang mudah diingat, misalnya akhir bulan setelah semua posisi ditutup.
Mulai dari rencana. Bandingkan aturan yang tertulis dengan transaksi yang benar-benar dilakukan pada bulan itu. Jika ada transaksi yang tidak sesuai aturan, tandai dan tulis alasannya. Satu atau dua penyimpangan masih wajar. Jika penyimpangan terjadi berulang, aturannya mungkin terlalu rumit untuk dijalankan, bukan karena pasar sedang sulit.
Lanjutkan ke jurnal. Periksa apakah setiap transaksi tercatat lengkap, termasuk biaya, spread, dan alasan keluar. Hitung berapa banyak catatan yang kosong pada kolom biaya. Kolom kosong membuat hasil bersih dalam rupiah tidak bisa dipercaya. Perbaiki catatan yang hilang selama ingatan masih segar. Setelah itu, jumlahkan biaya sebulan dan bandingkan dengan hasil bersih sebelum biaya.
Terakhir, periksa backtest. Pastikan aturan yang diuji masih sama dengan aturan yang dipakai bulan ini. Setiap perubahan aturan menuntut backtest baru, karena hasil lama tidak lagi menggambarkan aturan yang berlaku. Perhatikan juga jumlah transaksi dalam uji tersebut. Kesimpulan dari sepuluh transaksi jauh lebih lemah daripada kesimpulan dari lima puluh transaksi.
Catat hasil pemeriksaan dalam satu halaman pendek. Tulis apa yang berubah, apa yang dipertahankan, dan aturan mana yang perlu diuji ulang. Halaman itu menjadi titik awal pemeriksaan bulan berikutnya. Dengan begitu, tiga catatan tadi berkembang menjadi kebiasaan yang bisa ditelusuri, bukan tumpukan berkas yang tidak pernah dibuka lagi.
Hasil 50 transaksi dari satu aturan
| Langkah | Jumlah | Catatan |
|---|---|---|
| Jumlah transaksi | 50 | dicatat di jurnal, satu aturan yang sama |
| Transaksi untung | 28 | dihitung dari catatan jurnal |
| Transaksi rugi | 22 | dihitung dari catatan jurnal |
| Rata-rata untung per transaksi | Rp180.000 | dari selisih harga XAU/USD yang tercatat |
| Rata-rata rugi per transaksi | Rp150.000 | dari selisih harga XAU/USD yang tercatat |
| Total untung | Rp5.040.000 | 28 dikali Rp180.000 |
| Total rugi | Rp3.300.000 | 22 dikali Rp150.000 |
| Hasil bersih sebelum biaya | Rp1.740.000 | Rp5.040.000 dikurangi Rp3.300.000 |
| Biaya dan spread 50 transaksi | Rp1.500.000 | perkiraan Rp30.000 per transaksi, angka ini bervariasi tiap broker |
| Hasil bersih setelah biaya | Rp240.000 | Rp1.740.000 dikurangi Rp1.500.000 |
Broker dapat membulatkan harga, menambah komisi, atau memberi spread berbeda. Satu pip pada satu lot standar XAU/USD adalah angka yang bervariasi menurut broker dan ukuran kontrak, jadi selalu periksa spesifikasi kontrak.
Melakukannya sekali, langkah demi langkah
Ikuti urutan ini untuk membuat rencana, jurnal, dan backtest yang bisa diperiksa ulang. Setiap langkah dilakukan sekali, berurutan, sebelum Anda memakai aturan dengan uang sungguhan.
- 01
Tulis aturan masuk dan keluar
Tentukan syarat masuk, syarat keluar, dan jarak henti rugi. Gunakan angka pasti, misalnya masuk jika harga menyentuh 2.410,00 dan keluar jika menyentuh 2.390,00. Simpan aturan ini di berkas terpisah dari jurnal.
- 02
Hitung ukuran posisi dan risiko
Tentukan berapa rupiah risiko per transaksi. Bagi risiko dengan jarak henti rugi dikali nilai per poin. Hasilnya adalah ukuran posisi dalam lot. Tulis angka ini di rencana sebelum membuka posisi.
- 03
Siapkan jurnal dengan kolom biaya
Buat kolom tanggal, arah, harga masuk, harga keluar, ukuran, alasan keluar, dan biaya. Isi setiap baris tepat setelah posisi ditutup. Jangan menunda sampai lupa.
- 04
Backtest aturan yang sama
Ambil data harga lama dan terapkan aturan tanpa mengubahnya. Catat setiap transaksi hasil backtest. Hitung hasil bersih setelah biaya. Bandingkan dengan rencana awal.
- 05
Hitung hasil bersih setelah 50 catatan
Setelah 50 transaksi nyata terkumpul, jumlahkan untung dan rugi. Kurangi total biaya. Hasil akhirnya adalah angka bersih dalam rupiah. Bandingkan dengan hasil backtest.
- 06
Periksa broker dan metode setor
Pastikan broker terdaftar di Bappebti. Gunakan transfer bank atau e-wallet untuk setor dana. Periksa spesifikasi kontrak karena pembulatan harga dan komisi dapat berbeda di setiap broker.
Kesalahan yang paling sering dilakukan di sini
Kesalahan yang sering terjadi adalah mengisi jurnal hanya saat untung, lalu menyimpulkan aturan berhasil dari ingatan. Akibatnya, biaya dan kerugian kecil tidak pernah masuk hitungan. Yang benar, catat setiap transaksi tepat setelah ditutup, termasuk biaya dan alasan keluar. Setelah 50 catatan terkumpul, baru hitung hasil bersih dan bandingkan dengan rencana awal.Periksa diri Anda
Jika 40 transaksi menghasilkan rata-rata untung Rp120.000 dan 20 transaksi menghasilkan rata-rata rugi Rp90.000, berapa hasil bersih sebelum biaya?
Total untung 40 dikali Rp120.000 sama dengan Rp4.800.000. Total rugi 20 dikali Rp90.000 sama dengan Rp1.800.000. Hasil bersih sebelum biaya Rp4.800.000 dikurangi Rp1.800.000 sama dengan Rp3.000.000.
Dari hasil Rp3.000.000 itu, jika biaya per transaksi Rp25.000 untuk 60 transaksi, berapa hasil bersih akhirnya?
Biaya 60 dikali Rp25.000 sama dengan Rp1.500.000. Hasil bersih akhir Rp3.000.000 dikurangi Rp1.500.000 sama dengan Rp1.500.000.
Pertanyaan yang muncul berikutnya
Apa yang harus dicatat di jurnal jika saya tidak yakin alasan keluar saya benar
Catat apa adanya, termasuk keraguan itu. Tulis apakah posisi ditutup karena aturan tertulis atau karena reaksi terhadap pergerakan harga. Kolom alasan keluar berguna justru saat isinya tidak rapi. Setelah puluhan catatan, pola keputusan yang keliru akan terlihat dari kolom itu. Jangan memperbaiki catatan lama agar terlihat lebih baik.
Berapa lama data harga lama yang perlu diuji untuk satu aturan
Tidak ada angka pasti yang berlaku untuk semua orang. Yang penting adalah jumlah transaksi yang diuji, bukan panjang kalender. Aturan yang jarang memberi sinyal butuh rentang waktu lebih panjang agar terkumpul cukup banyak contoh. Sebaliknya, aturan yang sering memberi sinyal bisa diuji pada rentang lebih pendek. Periksa apakah hasilnya tetap mirip di dua rentang waktu berbeda.
Bagaimana memasukkan biaya ke dalam backtest jika tiap broker berbeda
Pakai asumsi biaya Anda sendiri, lalu uji ulang dengan asumsi yang lebih mahal. Misalnya biaya Rp25.000 per transaksi, lalu coba Rp40.000 per transaksi. Jika aturan hanya menguntungkan pada biaya termurah, aturan itu rapuh. Tulis asumsi biaya di halaman yang sama dengan hasil backtest. Karena spread dan komisi bervariasi antar broker, hasil backtest tidak bisa dianggap berlaku sama di semua tempat.
Apakah hasil backtest bisa dipakai untuk memperkirakan hasil bulan depan
Tidak. Backtest menunjukkan bagaimana aturan berperilaku pada data lama, bukan apa yang akan terjadi. Pasar bisa berubah, dan biaya bisa berbeda dari asumsi Anda. Gunakan hasil backtest untuk memeriksa apakah aturan punya dasar, bukan untuk menetapkan target. Jika hasil backtest dipakai sebagai janji, keputusan berikutnya akan diambil dengan asumsi yang salah.
Apa yang dilakukan jika jurnal menunjukkan hasil bersih negatif setelah 50 catatan
Periksa dulu apakah semua biaya sudah tercatat. Periksa juga apakah setiap transaksi benar-benar mengikuti aturan di rencana. Jika banyak transaksi keluar dari aturan, hasil negatif itu belum menguji aturan Anda. Jika aturan sudah diikuti dan hasilnya tetap negatif, hentikan dulu dan tinjau ulang syarat masuk dan keluar. Jangan menambah ukuran posisi untuk mengejar kerugian.
Apakah rencana perlu diubah saat harga bergerak cepat
Rencana ditulis sebelum melihat grafik, jadi perubahannya juga dilakukan di luar sesi berjalan. Jika Anda mengubah aturan saat posisi terbuka, catat perubahan itu sebagai penyimpangan. Setelah posisi ditutup, nilai apakah perubahan tersebut masuk akal atau hanya reaksi sesaat. Aturan yang berubah setiap kali harga bergerak tidak bisa diuji maupun dievaluasi.
Kata-kata yang dipakai di halaman ini
- rencana
- Daftar aturan tertulis yang dibuat sebelum melihat grafik. Isinya syarat masuk, syarat keluar, ukuran posisi, dan asumsi biaya. Rencana dipakai sebagai pembanding, bukan sebagai ramalan arah harga.
- jurnal
- Catatan tiap transaksi yang diisi tepat setelah posisi ditutup. Isinya tanggal, arah, harga masuk dan keluar, ukuran posisi, biaya, serta alasan keluar. Jurnal memisahkan hasil kotor dari hasil bersih.
- backtest
- Pengujian aturan pada data harga lama dengan aturan yang sama seperti di rencana. Tujuannya melihat perilaku aturan pada banyak contoh transaksi. Backtest tidak memperkirakan hasil di masa depan.
- hasil bersih
- Sisa setelah semua untung dan rugi dikurangi biaya transaksi. Angka ini yang dibandingkan dengan rencana awal. Hasil kotor bisa terlihat positif meski hasil bersihnya negatif.
- ukuran posisi
- Jumlah lot yang dipakai untuk satu transaksi, dihitung dari risiko rupiah dan jarak henti rugi. Ukuran ini ditetapkan sebelum masuk pasar. Menghitungnya setelah posisi terbuka membuat risiko tidak terkendali.
- spread
- Selisih antara harga beli dan harga jual yang dibebankan broker. Besarnya bervariasi antar broker dan dapat berubah menurut kondisi pasar. Spread termasuk biaya yang harus masuk ke jurnal dan backtest.
Yang perlu diingat
- Tulis rencana sebelum melihat grafik, isi jurnal tepat setelah posisi ditutup, dan uji aturan yang sama pada data lama.
- Catat biaya di setiap baris jurnal, karena hasil kotor dan hasil bersih adalah dua angka berbeda.
- Bandingkan hasil bersih dari puluhan catatan dengan rencana awal, bukan dengan ingatan.
- Jika aturan tidak diikuti, hasilnya belum menguji aturan itu.